Pendahnluan

Ayat 1 – 10

Surah Makkiyah ini menggambarkan dan membuktikan totalitas komprehensif atau menyeluruh tentang ketuhanan. Ciptaan tampaknya memang terdiri dari berbagai sistem yang berbeda, dengan masing-masing sistem bergerak menuju pencapaian penuh potensinya, dan sistem-sistem ini saling berjalin berkelindan, entah terlihat maupun tidak.

Sang Pengendali dari seluruh sistem ini adalah satu Pencipta yang tak terbatasi oleh waktu dan meliputi seluruh makhluk. Segenap anugerah dan rahmat itu dimaksudkan agar kita bisa mengetahui rahmat-Nya yang tak berbatas, kasih sayang dari sang Pencipta yang Maha Pengasih, tempat kembali seluruh makhluk, dan yang dengan rahmat-Nya seluruh makhluk diciptakan.

بِِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dengan Nama Allah, Maha Pengasih, Maha Penyayang.

تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

1. Mahasuci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

2. Yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu siapa di antara kamu yang lebih amal perbuatannya. Dan Dia Mabaperkasa lagi Maha Pengampun.

Ciptaan itu didasarkan pada cinta sang Pencipta pada apa yang Dia ciptakan. Dan apa yang Dia ciptakan berasal dari diri-Nya, ditopang oleh-Nya, didukung oleh-Nya, dan kembali kepada-Nya. Ketika cinta itu mengejewantah dalam diri makhluk, sang makhluk pun merasakan kebahagiaan dan kenikmatan. Sumber dan pancaran kebahagiaan itu selalu ada setiap saat. Hanya saja, memang sang makhluk sendirilah yang suka menghalanginya secara ceroboh. Seluruh ciptaan ini adalah hasil dari rahmat Zat yang ciptaan-Nya adalah kerajaan-Nya. Segala sesuatu di dalamnya berada dalam genggaman-Nya dan berasal dari kekuasaan-Nya. Oleh karena itu, setiap makhluk memperoleh kekuatannya secara langsung dari sang Pencipta.

Allah menciptakan pengalaman hidup dan mati. Dalam kehidupan ini, manusia dilemparkan ke dalam berbagai situasi agar ia bisa tersucikan dari segala pengaruh jahat. Cobaan (balâ’) adalah suatu ujian penting yang menggerakkan manusia, dengan ilmu dan pengetahuan, menuju tingkatan kemumian yang lebih tinggi. Ujian (balwa) adalah sarana manusia untuk menghilangkan hambatan hasrat dan pamrih yang ada antara dirinya dan sang Pencipta. Ujian mengajari makhluk untuk hidup bebas, mengetahui anugerah hidup yang telah diberikan kepadanya. Amal-amal paling baik adalah yang dilakukan tanpa pamrih. Semuanya itu dilakukan semata-mata dan secara tulus demi kepentingan Allah.

Manifestasi atau pengejawantahan pertama dari penciptaan adalah kehidupan. Pengalaman kehidupan bermakna hanya bila ada lawannya, pengalaman kematian. Pengalaman ini pasti dialami setiap orang. Selain ada kehidupan dan kematian lahiriah, ada juga kehidupan dan kematian batiniah. Ketika hati sudah mengeras, maka ia sama saja mati. Jika hati itu mengalir, maka ia hidup. Kehidupan dan kematian sama-sama ada, baik secara inderawi maupun maknawi.

الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ طِبَاقًا مَّا تَرَى فِي خَلْقِ الرَّحْمَنِ مِن تَفَاوُتٍ فَارْجِعِ الْبَصَرَ هَلْ تَرَى مِن فُطُورٍ

3. Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat dalam ciptaan Tuhan Yang Maha Pengasih sesuatu yang tidak seimbang. Maka, lihatlah berulang-ulang, apakah kamu melihat sesuatu yang tidak seimbang?

ثُمَّ ارْجِعِ الْبَصَرَ كَرَّتَيْنِ يَنقَلِبْ إِلَيْكَ الْبَصَرُ خَاسِأً وَهُوَ حَسِيرٌ

4. Kemndian pandanglah sekali lagi, niscaya pandanganmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu yang cacat, dan pandanganmu pun dalam keadaan payah.

Kerajaan Allah terwujud dalam tujuh lapisan, tujuh tahap atau model langit yang berbeda. Setiap lapisan berada di atas lapisan lainnya, saling berkaitan secara tidak kelihatan, tetapi tetap mempertahankan segenap karakteristiknya masing-masing. Dijumpai dalam berbagai hadis dan juga ucapan para Imam bahwa bumi mempunyai tujuh lapisan. Malahan, ada sebuah doa yang berbunyi: Rabb as-samawât as-sab’ wa rabb al-ardh as-sab’ (Tuhan pemilik tujuh langit dan tujuh bumi).

“Kamu sekali-kali tidak melihat dalam ciptaan Tuhan Yang Maha Pengasih sesuatu yang tidak seimbang.” Kata futhur berasal dari fathara, yang berarti membuka, meretakkan. Fithrah adalah retakan awal—awal manusia dihidupkan. Tuhan Yang Maha Pengasih meliputi segala sesuatu di bawah naungan rahmat-Nya. Rahmat Allah diberikan kepada seluruh makhluk, sementara rahm-Nya. hanya diberikan kepada orang mukinin. Di bawah naungan Tuhan Yang Maha Pengasih, tidak ada sesuatu pun dalam ciptaan yang tidak bisa ditempatkan. Tidak ada keterputusan di dalamnya. Segala sesuatu menjadi bermakna bagi manusia bila ia mengembangkan pandangan yang benar dan mencampakkan penilaian yang serampangan. Allah berfirman, “Kemudian pandanglah sekali lagi.” Sebab, sekalipun manusia sering melihat, ia melakukannya tanpa suatu tilikan yang cermat. Alquran menantang manusia untuk memandang sekali lagi kalau-kalau ia menemukan ada sesuatu yang salah atau tidak seimbang. Semakin sering seseorang memandang, semakin ia menemukan kesempurnaan lapis demi lapis dalam hukum-hukum dan keterkaitan yang menyatukan alam semesta ini.

Sering muncul keraguan dalam diri manusia ketika ia mulai merenung. Pada mulanya, renungannya tampak tidak jelas dan tidak berhubungan dengan hakikatnya. Akan tetapi, semakin sering ia merenung, semakin sering pula ia melihat kasih sayang sejati yang mengantarkannya menuju kesadaran dan pemahaman sempuma. Penglihatan akan didapatkannya kembali dan ia tidak akan mampu menemukan kesalahan.

“Niscaya pandanganmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu yang cacat, dan pandanganmu pun dalam keadaan payah.” Kata khâsi’ berarti tertolak, vulgar, diingkari. Kata hashîr berarti kelelahan, putus asa atau kepayahan. Jika manusia merenung, maka ia tidak akan mampu melihat suatu cacat apa pun. Pandangannya hanya akan melihat Tuhan Yang Maha Pengasih, yang pengejawantahan-Nya ada dalam kesempumaan ciptaan-Nya. Tidak ada sesuatu pun yang timpang. Entitas-entitas kemakhlukan saling berkaitan satu sama lain dengan sangat akurat. Ini menegaskan bahwa Tuhan Yang Maha Meliputi mengejawantahkan rahmat-Nya. Dengan kata lain, kemampuan akal manusia dan tilikannya akan mampu melihat kesempurnaan ciptaan.

وَلَقَدْ زَيَّنَّا السَّمَاء الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ وَجَعَلْنَاهَا رُجُومًا لِّلشَّيَاطِينِ وَأَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابَ السَّعِيرِ

5. Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang, dan Kami jadikan bintang-bintang itu sebagai alat-alat pelempar setan, dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala.

وَلِلَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

6. Dan orang-orang yang kafir kepada Tuhan mereka memperoleh azab dan siksa Jahannam. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.

إِذَا أُلْقُوا فِيهَا سَمِعُوا لَهَا شَهِيقًا وَهِيَ تَفُورُ

7. Apabila mereka dilemparkan ke dalamnya, mereka mendengar suara neraka yang mengerikan, sementara neraka itu menggelegak.

تَكَادُ تَمَيَّزُ مِنَ الْغَيْظِ كُلَّمَا أُلْقِيَ فِيهَا فَوْجٌ سَأَلَهُمْخَزَنَتُهَا أَلَمْ يَأْتِكُمْ نَذِيرٌ

8. Hampir-hampir (neraka) itu terpecah-pecah lantaran marah. Setiap kali dilemparkan ke dalamnya sekumpulan (orang-orang kafir), penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya, “Apakah belum pernah datang kepadamu (di dunia) seorang pemberi peringatan?”

قَالُوا بَلَى قَدْ جَاءَنَا نَذِيرٌ فَكَذَّبْنَا وَقُلْنَا مَا نَزَّلَ اللَّهُ مِن شَيْءٍ إِنْ أَنتُمْ إِلَّا فِي ضَلَالٍ كَبِيرٍ

9. Mereka menjawab, “Ya, benar. Sesungguhnya telah datang kepada kami pemberi peringatan. Lalu kami mendustakan, dan kami katakan, ‘Allah tidak menurunkan sesuatu pun; kamu tiada lain hanyalah dalam kesesatan yang besar.'”

وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ

10. Dan mereka berkata, “Sekiranya dahulu kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu), niscaya kami tidak akan termasuk dalam golongan penghuni neraka yang menyala-nyala.”

Langit terendah adalah langit yang dilihat manusia sekarang ini. Langit-langit yang lain berada di luar jangkauan mata telanjang biasa. Semuanya itu bertumpu pada energi atau kekuatan halus yang menyatukan alam semesta. Bintang-bintang menghiasi langit terendah, yang menampakkan banyak sekali pertukaran dinamis, entah bisa dilihat atau disimpulkan melalui observasi.

“Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang, dan Kami jadikan bintang-bintang itu sebagai alat-alat pelempar setan.” Kata rajama, yang merupakan akar kata dari alat pelempar, berarti melempari atau mengutuk. Ada beberapa makna yang bisa diberikan kepada frase ini. Arti pertama adalah bahwa kekuatan setan yang tak kasatmata tidak dapat melampaui langit dunia. Makna lainnya adalah bahwa orang-orang yang menggunakan kekuatan supranatural dan sihir bakal sengsara dan tidak akan mampu melampaui suatu batas.

Semua bentuk setan atau penyimpangan akan mengantarkan manusia menuju ‘adzâb as-sa’îr, azab dan siksa api neraka yang menyala-nyala. Orang-orang yang berada dalam genggaman kekuasaan setan—yang mengingkari Tuhan, menutup-nutupi, tidak beriman bahwa ada Pemelihara kehidupan yang memandu kita menuju perwujudan berbagai kemungkinan potensi kita—akan memperoleh azab api neraka abadi, yang tidak ada tandingan kepedih-an dan kedahsyatannya. Kata mashir, tempat tujuan atau nasib terakhir, berasal dari kata shara, yang berarti menjadi, sebuah kata yang menyiratkan “adanya waktu.”

Erangan atau keluhan yang terlontar ketika seseorang memasuki neraka Jahannam adalah ekspresi terakhir yang disebut syahiq (erangan). Kata syahaqa berarti menghirup, menghela nafas, mengerang. Ketika berada di tempat kediaman terakhir, makhluk-makhluk mengeluarkan suara keluhan di suatu lingkungan yang senantiasa berubah, tidak pernah tetap—kebalikan dari surga.

Dalam api yang selalu berkobar-kobar, berputar-putar dengan kemurkaan, yang semakin panas ketika diberikan bahan bakar, muncul suatu suara yang bertanya, “Bukankah kau sudah diberitahu tentang keadaan ini? Bukankah kau sudah diingatkan untuk mempersiapkan diri dalam menyongsong akhir yang mengerikan ini?” Penanya itu adalah para penjaga api neraka.

Orang-orang yang ditanya itu kemudian menjawab, “Kami tidak mendengar. Kami mengingkari eksistensi Tuhan Yang Mahabenar. Kami mengingkari Allah. Kami yakin bahwa tidak ada Tuhan Yang Mahabenar dan menganggap bahwa orang-orang yang menyuarakan kebenaran adalah orang-orang yang sesat.

Hanya ada keadilan di dunia ini dan di akhirat nanti. Jika seseorang tidak mendengar suara kebijakan yang akan memandunya di dunia ini dan menunjukkan kepadanya bagaimana cara hidup yang menjauhkan dirinya dari bahaya—jika ia tidak memperhatikan kebijakan itu, maka ia akan sengsara dalam kehidupan ini. Akan tetapi, ada lagi keadaan yang lebih tinggi, suatu keadaan di mana terdapat keimanan pada dan pengakuan akan Allah. Jika keadaan itu tidak muncul, hukuman ada diterima di dunia ini maupun di akhirat nanti—ketika waktu relatif berhenti dan keabadian mutlak dimulai.

Ini bukanlah bahasa teater. Ada komunikasi seketika di luar batas waktu di antara berbagai makhluk. Dalam kehidupan ini, orang-orang kafir menarik garis batas antara kemampuan mendengar dan kemampuan memahami apa yang bisa didengar. Mereka merintangi penggunaan kemampuan akal alami, indera bawaan yang dianugerahkan kepada setiap orang. Mereka salah menafsirkan demi ke-untungan mereka sendiri, keterikatan sentimental, emosionalisme, atau karena cinta dunia.

al-shia.com

Iklan