Ayat 21-30

أَمَّنْ هَذَا الَّذِي يَرْزُقُكُمْ إِنْ أَمْسَكَ رِزْقَهُ بَل لَّجُّوا فِي عُتُوٍّ وَنُفُورٍ

21. Atau siapakah ia ini yang memberimu rezeki bila Allah menahan rezeki-Nya? Sebenamya mereka terus-menerus berada dalam kesombongan dan menjauhkan diri.

Cobalah perhatikan burung-burung yang terbang di atas kita. Tidak ada yang menyangga mereka. Penjelasan yang dapat diberikan untuk fenomena alam ini hanya sekadar penjelasan saja dan bukan kebenaran. Manusia berusaha menjelaskan terbangnya burung dan pesawat terbang dengan kekuatan-kekuatan matematis yang saling menyeimbangkan. Ada sekian banyak ton baja pada pesawat terbang— bagaimana ia bisa terbang? Bagaimana ia bisa melayang di udara? Sebuah kapal baja mengambang di atas air—apa makna dari semua fenomena ini? Allah memanifestasikan atau mengejawantahkan Kebenaran dalam kehidupan ini dalam berbagai cara yang indah. Tidak ada yang menyangga burung selain rahmat dan kasih sayang Allah. Rahmat dan kasih sayang Allah membuat kita mampu melihat semua peristiwa aneh ini.

Seluruh bantuan dan pertolongan berasal dari satu sungai Rahmat. Jika manusia membayang bahwa hal itu berasal dari sumber selain-Nya, maka hal itu disebabkan ia hanya melihat dirinya sendiri saja. Inilah ghurûr (tipuan), kesombongan yang menjurus pada tipu daya, penipuan diri dan keterputusan dari tauhid. Seorang kafir yang mengingkari rahmat Allah tidak bisa melihat manifestasi atau pengejawantahan tauhid dalam kesempumaan hukum-hukum yang mengatur kehidupan.

Dari mana rezeki manusia datang? Bagaimana kesinambungan ekologis berdaur-ulang bisa dipelihara? Karena manusia tidak tunduk, pengetahuannya pun menjadi menyimpang. Ia hanya mempunyai pengetahuan terbatas yang hanya memuaskannya sebentar; inilah kesombongan. Pengetahuan yang terbatas tidak bisa memberikan pemahaman batiniah dan benar secara fundamental yang bisa berhubungan dengan pemahaman lahiriah. Pengetahuan tentang Tuhan Yang Mahaesa muncul dari dalam; inilah pengetahuan tentang sistem keseluruhan.

أَفَمَن يَمْشِي مُكِبًّا عَلَى وَجْهِهِ أَهْدَى أَمَّن يَمْشِي سَوِيًّا عَلَىصِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

2. Maka, apakah orang yang berjalan dengan menyungkur di atas wajahnya lebih banyak mendapat petunjuk, ataukah orang yang berjalan tegap di atas jalan yang lurus?

Kata mukibb berasal dari kabba, yang berarti menyungkurkan. Dalam tradisi Syi’ah, ada sebuah riwayat yang berasal dari Imam Ridha a.s. Ketika ditanya siapakah orang yang berjalan menyungkur di atas wajahnya, beliau menjawab bahwa mereka adalah orang-orang yang tidak mematuhi perintah Nabi Muhammad saw. untuk mengikuti ‘Ali a.s. Orang-orang yang tidak mau mengikuti ‘Ali a.s. mulai menafsirkannya sesuai dengan kemauan mereka sendiri. Mereka mengatakan bahwa tidak ada washi (pengganti) yang telah ditunjuk oleh Nabi Muhammad saw. Bagaimana bisa seorang sebijak Nabi Muhammad saw. meninggalkan umatnya tanpa menunjuk orang yang tepat, orang yang bisa memetik manfaat penuh dari Alquran? Tidak ada seorang muslim pun yang akan menyangkal apa yang Rasulullah katakan tentang Ahlul Bait (keluarga Nabi). Mengapa mereka tidak mengikuti Alquran dan sunah Nabi? Manusia selalu ingin menambahkan sesuatu yang diterimanya. Jika seseorang diberi suatu resep yang sempuma, maka timbullah kesombongan dalam dirinya untuk menambahkan beberapa bahan lainnya. Padahal, boleh jadi bahan-bahan tambahan itu mungkin bisa merusak livernya.

Tidak boleh ada penafsiran. Penafsiran apa pun akan menjadi salah tafsir. Hamba Allah yang sejati mematuhi apa saja yang diperintahkan kepadanya agar bisa memancarkan cahaya bimbingan yang telah diterimanya. Inilah yang menimbulkan keyakinan.

Kegelapan mata membuat sebagian orang bersikukuh pada pendapatnya; ini bukanlah keyakinan. Memang tampaknya mereka sangat yakin, tetapi yang demikian itu bagaikan keyakinan seorang tiran bila dibandingkan dengan keyakinan seseorang yang benar-benaar beriman dan pasrah. Seorang tiran merasa yakin pada dirinya sendiri, tetapi ada suatu titik di mana ia bisa goyah. Seorang mukmin tidak pemah goyah. Jika kesengsaraannya meningkat, maka kekuatannya pun meningkat. Ketika orang-orang berpaling dari dirinya, ia pun berpaling kepada Allah. Di sinilah kekuatan sejati didapatkan. Seorang yang sudah tunduk pada risalah sejati dan mengikutinya dengan sungguh-sungguh berada di jalan yang benar. Sementara itu, orang yang berbuat sebaliknya adalah seperti orang yang ber-jalan dengan menyungkur di atas wajahnya.

Ada berbagai tingkat keimanan. Keimanan paling tinggi adalah ketundukan pada Tuhan Yang Mahabenar dengan pengetahuan—itulah keselarasan sempuma. Akan halnya orang-orang yang terjatuh, mereka adalah orang-orang muslim yang tersesat, orang-orang mukimin yang keimanannya belum sempuma, atau orang-orang kafir yang benar-benar mengingkari Allah. Semuanya ini menjerumuskan mereka ke dalam neraka.

قُلْ هُوَ الَّذِي أَنشَأَكُمْ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَوَالْأَفْئِدَةَ قَلِيلًا مَّا تَشْكُرُونَ

23. Katakanlah, “Dialah Tuhan yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati. Amat sedikit kamu bersyukur.

Kata qul, yang berarti katakan, secara tersirat bermakna menyaksikan, mengetahui, dan melihat sang Pencipta. Perhatikanlah bagaimana Anda muncul dari sumber terbaik, Sumber tertinggi. Perhatikan bagaimana Anda mendengar dan melihat. Renungkanlah hati Anda dan keadaan Anda sendiri. Anda akan mengakui, membenarkan, dan mengetahui bahwa Anda diciptakan dalam bentuk sebaik-baiknya, bentuk tertinggi. Hal ini akan melahirkan rasa syukur, yang akan menimbulkan kepuasan, yang pada gilirannya akan memberikan pandangan dan wawasan yang lebih luas. Qul huwallâh ahad: “Katakanlah bahwa Allah itu Mahaesa” (QS 112:1). Apa yang sering dikatakan menjadi apa yang dimaksudkan, dan apa yang dimaksud menjadi apa yang dikatakan. Karena itu, makhluk hanya melihat Tuhan Yang Mahaesa. Dengan mengucapkannya, ia pun menganut tauhid.

“Amat sedikit kamu bersyukur.” Menyelami kedalaman ayat melahirkan pemahaman yang lebih dalam tentang makna-makna batiniahnya. Dengan meningkatkan rasa syukur, seseorang bisa memperoleh pengetahuan tentang makhluk dan, karenanya juga, tentang sang Pencipta, yang sifat-sifat-Nya ada dalam ciptaan-Nya.

قُلْ هُوَ الَّذِي ذَرَأَكُمْ فِي الْأَرْضِ وَإِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

24. Katakanlah, “Dialah yang menjadikan kamu berkembang biak di muka bumi, dan kepada-Nya sajalah kamu kelak dikumpulkan.”

وَيَقُولُونَ مَتَى هَذَا الْوَعْدُ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ

25. Dan mereka berkata, “Kapankah datangnya ancaman itu bila kamu memang orang-orang yang benar?”

قُلْ إِنَّمَا الْعِلْمُ عِندَ اللَّهِ وَإِنَّمَا أَنَا نَذِيرٌ مُّبِينٌ

26. Katakanlah, “Sesungguhnya ilmu (tentang hari kiamat) itu hanya ada di sisi Allah. Dan sesungguhnya aku ini hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan.”

فَلَمَّا رَأَوْهُ زُلْفَةً سِيئَتْ وُجُوهُ الَّذِينَ كَفَرُوا وَقِيلَ هَذَا الَّذِي كُنتُم بِهِ تَدَّعُونَ

27. Ketika mereka melihat azab (pada hari kiamat) sudab dekat, wajah orang-orang kafir itu menjadi muram. Dan dikatakan (kepada mereka), “Inilah (azab) yang dahulu selalu kamu mintakan.”

Kata dzarâ berarti mencerai-beraikan, menyebarkan. Akar kata ini, dzarra, juga melahirkan kata-kata yang bermakna untuk atom (unit terkecil dari sesuatu) dan keturunan. Untuk setiap tindakan ada reaksi. Untuk setiap penyebaran, ada penghimpunan. Manusia disebarkan untuk mengetahui dan menghayati makna kehidupannya, realitasnya, dan Sumbernya, tempat ia akan dihimpunkan kembali.

Orang-orang yang tidak tunduk—orang-orang yang batinnya tidak tenang, tidak bersyukur, tidak memeluk tauhid, dan orang-orang yang tidak memandang diri mereka sebagai tak terpisahkan dengan Tuhan Yang Mahabenar—hanya melihat ketimpangan; mereka berada dalam kekafiran. Mereka bertanya ihwal kapan janji penyatuan itu bakal terwujud. Jika Anda termasuk dalam golongan orang-orang yang benar, maka kapan janji akhirat akan dipenuhi? Seseorang yang merasa ragu-ragu selalu mencari dan meminta bukti-bukti. Jawaban bagi orang-orang yang merasa ragu-ragu itu memancar dari keimanannya dalam hati—hati sudah mengetahui apa yang bukan dan, karenanya, bersemayam dalam apa yang semestinya ada.

Pengetahuan tentang yang gaib—alam akhirat dan hari kebangkitan—hanya ada pada Allah. Orang-orang kafir hanya bisa diberi peringatan. Ayat di atas memberikan penjelasan kepada orang-orang yang bertanya ihwal kapan Allah berada di luar waktu. Waktu ada agar manusia bisa memperhatikan, berhenti sejenak, dan merenungkan apa yang sudah berlalu.

Peringatkanlah mereka bahwa terus-menerus bertanya hanya meningkatkan keraguan saja. Yang demikian itu akan semakin menenggelamkan mereka ke dalam pasir hidup yang mereka yakini sebagai tanah keras tempat mereka berpijak. Sistem kufr melestarikan ilusi tentang kekuatannya sendiri. Dalam kenyataannya, ia sama sekali tidak memiliki fondasi; ia hanya mengikuti angan-angan dan khayalan (wahm)-nya sendiri, yang membuat sang pencari kebenaran menempuh arah yang salah. Pencariannya menjauhkan dirinya dari jawaban dan mendekatkannya pada harapan palsu dan keputusasaan. Manusia berlindung di dalam gelembung kekafiran. Sebuah serangan strategis akan menghancurkannya dan menyebabkan manusia jatuh berikut sistem kufr itu.

Ketika kehidupan akhirat datang, orang-orang yang tadinya kafir akan mempunyai ekspresi wajah yang pucat. Mereka menjadi sangat ketakutan, karena berhadapan dengan apa yang telah mereka ingkari dahulu di dunia. Mereka diberitahu bahwa inilah yang dijanjikan kepadanya— Anda adalah apa yang Anda peroleh. Mereka mengalami keadaan ini lantaran amal-amal mereka sendiri, yang didukung oleh niat mereka. Dalam sebuah riwayat Ahlul Bait, dituturkan bahwa ayat di atas merujuk pada sahabat-sahabat Nabi Muhammad saw. yang, karena melihat ‘Ali a.s. begitu dekat dengan Nabi saw., menjadi sangat cemburu.

قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ أَهْلَكَنِيَ اللَّهُ وَمَن مَّعِيَ أَوْ رَحِمَنَا فَمَن يُجِيرُ الْكَافِرِينَ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ

28. Katakanlah, “Terangkanlah ihwal bagaimana jika Allah mematikan aku dan orang-orang yang bersamaku atau memberi rahmat kepada kami? Siapakah yang dapat melindungi orang-orang kafir dari siksa yang pedib?”

Tuhan Yanga Mahabenar akan mematikan setiap orang. Orang harus memahami bahwa rahmat dan periindungan Allah diberikan kepada setiap orang, baik mukmin maupun kafir. “Siapakah yang dapat melindungi orang-orang kafir?” Kata yujîru berasal dari ajâra, yang berarti melindungi atau membantu seseorang. Sementara itu, kata jâr berarti tetangga; kata ini menyiratkan adanya rahmat dan kasih sayang. Rahmat Allah meliputi bahkan seorang kafir sewaktu ia mengingkari-Nya. Akan tetapi, segala sesuatu yang berawal pasti juga bakal berakhir. Cinta ayah kepada anaknya terus ada sampai ia wafat. Sang ayah memiliki kontrak dengan anaknya untuk bersabar dalam setiap keadaan. Namun, setelah sang ayah wafat, bisa saja seorang paman mengambil anak itu dan memperlakukannya dengan kasar. Setiap orang senantiasa dilindungi hingga ia dibangunkan dan dibangkitkan. Waktu itu, ia sangat menyesal karena menempuh kehidupan yang tersesat dan menyedihkan. Allah telah memberi setiap orang kelonggaran hingga batas waktu tertentu (ilâ ajal musammâ), Allah, Tuhan Yang Maha Pengasih, meliputi semua makhluk dengan kasih sayang-Nya. Memahami rahmat Allah bisa dicapai dengan mengalaminya sambil bergantung kepadanya.

قُلْ هُوَ الرَّحْمَنُ آمَنَّا بِهِ وَعَلَيْهِ تَوَكَّلْنَا فَسَتَعْلَمُونَ مَنْ هُوَ فِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ

29. Katakanlah, “Dialah Allah Yang Maha Pengasih. Kami beriman kepada-Nya dan kepada-Nya sajalah kami bertawakal.” Kelak kamu akan mengetahui siapakah ia yang berada dalam kesesatan yang nyata.

قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ أَصْبَحَ مَاؤُكُمْ غَوْرًا فَمَن يَأْتِيكُم بِمَاء مَّعِينٍ

30. Katakanlah, “Terangkanlah, jika sumber airmu menjadi kering, siapakah yang akan mendatangkan air yang mengalir untukmu?”

“Maka kamu kelak akan mengetahui siapakah dia yang berada dalam kesesatan yang nyata.” Akan tiba saat bagi Nabi Muhammad saw. dan orang orang berilmu ketika tidak ada lagi yang perlu dikatakan. Dengan menggunakan akal dan hati sebisa mungkin untuk menyadarkan mereka, beliau hanya bisa berkata, “Kelak kamu akan mengetahui.”

Ghawr adalah turunnya ketinggian tanah. Kata ini berasal dari ghâra, yang berarti tenggelam, terserap. Jika Anda kehilangan air, maka tidak akan ada lagi penopang kehidupan lainnya. Semua makhluk hidup bergantung pada air. Alquran mengatakan bahwa seluruh kehidupan bertumpu pada air dan bahwa singgasana (‘arsy) Allah— fondasi penciptaan—mengambang di atas air. Jika tidak ada bebatuan di bawah tanah dan hanya ada pasir dalam jarak bermil-mil, maka air akan terserap oleh tanah. Jika semua air hilang, maka siapa yang akan mengalirkan air? Dari mana air datang? Kehidupan batiniah seseorang adalah sedemikian rupa sehingga, bila ada kesombongan, pengetahuan akan memasuki makhluk yang selalu bertanya laksana air yang merembes menembus lubang yang sangat dalam.

Keadaan yang merugi membuat orang tidak dapat merenung. Pengetahuan tentang diri, air yang memencar dari sumur pengetahuan, tidak dapat dipertahankan. Air itu merembes masuk dan menghilang ke dalam gua seseorang. Ghawr, keadaan turunnya tanah, berkaitan dalam makna dengan nafaq, terowongan bawah tanah. Tak peduli seberapa banyak pengetahuan yang Anda tuangkan kepada seorang munafik, pengetahuan itu tidak akan masuk karena ia selalu membuangnya, bagaikan seseorang yang berkali-kali kabur melalui terowongan bawah tanah. Urusan Allah sajalah untuk memberikan air, rezeki, cinta, dan kasih sayang. Jika ada refleksi atau renungan, maka pengetahuan akan mengendap.

Seluruh ciptaan adalah kerajaan dari satu-satunya Raja yang sifat-sifat-Nya diketahui, yang cinta-Nya meliputi segala sesuatu, yang keberadaan-Nya melampaui waktu, sebelum waktu, dalam waktu, dan sesudah waktu. Orang mampu menumbuhkan dan mengembangkan pengetahuan dengan sejenak menghentikan kemunafikan dan ketiadaan keyakinannya, serta dengan mengakui bahwa ia sebenarnya tidak memiliki apa-apa. Jika Anda memiliki sesuatu, maka hal itu ada dengan izin Dia yang telah menciptakan Anda. Allah telah menempatkan manusia di muka bumi sebagai khalifah. Dan kekhalifahan ini disertai dengan tanggung jawab, yakni tanggung jawab untuk menyadari utang budinya setiap saat kepada sang Raja Yang Maha Pengasih.[]

Iklan